Thursday, 23 February, 2017
Home » JKT48 News » Editorial » Andela Yuwono: Kisah Sebentar Sang Fenomenal

Andela Yuwono: Kisah Sebentar Sang Fenomenal

[Artikel ini merupakan pandangan personal sang penulis, subjektivitas akan sangat terasa dalam tulisan ini. Selamat membaca. 🙂]

Kemarin malam, JKT48 Operation Team (JOT) akhirnya mengumumkan pengunduran diri Andela Yuwono sebagai member JKT48 di web www.jkt48.com. Seturut dengan pengumuman tersebut, maka ‘saga final’ dari kisah sebentar sang fenomenal akhirnya berakhir juga.

Sang Fenomenal

Sang fenomenal itu kini telah resmi meninggalkan JKT48. Tak bisa dipungkiri bahwa karir Andela sebagai pekerja teater dan idola di JKT48 bagai kisah dongeng bagi mereka yang bergelut di dunia tersebut.

‘Anak baru’ itu dalam waktu singkat menjelma menjadi dewi teater. Dengan begitu mudahnya, Dirinya menyeruak di jajaran papan atas idola-idola JKT48, menggeser nama-nama yang selama ini rasanya sulit tergoyahkan oleh member-member potensial lainnya. Dia menjadi pusat perhatian dari generasi 3 dan team T, dimana perlahan dia juga menjadi pusat perhatian dari JKT48 itu sendiri. Andela telah menjadi sang fenomenal di JKT48.

Harapan dan doa akan masa depan JKT48 yang lebih cerah mulai dibebankan ke pundaknya. Andela bukan lagi ace masa depan JKT48, Ia telah menjelma menjadi ace masa kini JKT48. Para fans pun mulai mempercayakan tanggung jawab itu di dirinya, mereka percaya bahwa Andela sanggup mengembannya karena dia adalah figur yang dianggap mampu membawa lentera masa depan JKT48.

Akan tetapi, ‘dongeng’ tersebut ternyata tidak berakhir ‘bahagia’ seperti dongeng klasik pada umumnya. Perjalanan karirnya di JKT48 yang saja dimulai tersebut tiba-tiba harus terhenti karena penyakit yang menimpanya. Penyakit itu membuat Ia tidak sanggup lagi melanjutkan langkahnya dan memaksanya untuk berhenti. Perjalanan karirnya pun berubah menjadi sebuah kisah sebentar.

Sang fenomenal itu ‘dipaksa menyerah’ oleh keadaan, lentera masa depan JKT48 yang semulai emban jadi tergeletak begitu saja di lantai. Apakah akan ada member lainnya yang mampu mengemban tugas membawa lentera masa depan itu kembali?

 -Kisah Sebentar-

Andela adalah contoh pertama member JKT48 yang karirnya melesat tinggi dengan begitu cepat, tetapi kemudian berakhir dengan sama cepatnya. Yang menyesakkan, Andela harus mengakhiri karirnya secara dini bukan karena keinginannya semata, tetapi lebih karena faktor eksternal seperti penyakit. Sejauh ini, belum ada member lain di JKT48 yang punya kisah serupa seperti Andela.

Walau demikian, kisah serupa ternyata bisa kita temukan di dunia olahraga, misalnya kisah yang terjadi kepada pesebakbola Ruben De La Red dan pebasket Jay Williams

1. Ruben De La Red (Pesepakbola dari Spanyol)

Ruben De La Red adalah ‘wonderkid’ dari Spanyol. Di usianya yang masih muda, kepiawaiannya bermain di lapangan tengah membuatnya diprediksi menjadi gelandang bintang masa depan Spanyol dan La Liga. Dalam usia yang masih muda, Ruben terpilih menjadi bagian dari squad timnas Spanyol di Euro 2008 yang keluar menjadi juara di turnamen tersebut, dimana timnas Spanyol waktu itu diakui sebagai tim yang diisi dengan gelandang-gelandang terbaik di dunia, pemain-pemain tengah yang akan menjadi ‘ace’ apabila diletakkan di timnas lainnya.

Menjadi bagian dari tim tersebut membuktikan bahwa Ruben De La red bukanlah pemain tengah sembarangan.

Akan tetapi, karir sepakbola Ruben De La Red ternyata harus dihentikan di usia 25 tahun. Ruben didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit jantung dan keadaan ini ‘memaksanya’ berhenti dari bermain bola secara profesional, sekaligus mengakhiri karirnya sebagai pesepakbola profesional. Perjalanan karirnya berubah menjadi sebuah kisah sebentar.

2. Jay Williams (Pebasket dari Amerika Serikat)

Jay Williams adalah legenda di liga basket mahasiswa Amerika Serikat (NCAA). Kemampuannya dalam mencetak point dan mengatur alur permainan tim membuatnya terpilih menjadi point guard salah satu tim terkuat NBA pada saat itu, Chicago Bulls, di tahun 2002 (tahun yang sama dimana Yao Ming dipilih oleh Houston Rockets masuk ke timnya). Jay Williams juga terpilih menjadi point guard di timnas Amerika Serikat dalam Piala Dunia FIBA 2002.

Masa depan Jay Williams sangatlah cerah, Ia adalah ace masa depan Chicago Bulls dan Amerika Serikat.

Akan tetapi, Kecelakaan motor yang dialaminya pada tahun 2003 ‘memaksanya’ beristirahat panjang untuk memulihkan keadaannya. Comeback yang dinanti ternyata tidak kunjung datang, Ia sempat mencoba kembali berkarir di NBA pada tahun 2006 setelah selesai rehabilitasi pasca kecelakaan, tertapi Ia gagal masuk ke tim inti karena performanya tidak pernah bisa kembali seperti dahulu lagi. Perjalanan karirnya juga menjadi sebuah kisah sebentar.

-Sang Fenomenal-

Perjalanan karir Andela tidaklah diawali dengan ‘jalan yang mulus’. Pada awal audisi, Andela kalah pamor dengan beberapa calon member lainnya seperti Michelle Christo dan Rachel Florensia (yang ternyata gagal masuk ke gen 3 JKT48).

Setelah dia menjadi trainee gen 3 pun, Andela bukan lah pilihan utama JOT. Manajemen lebih suka mendorong Michelle dan Millenia menjadi ‘ace’ dari generasi 3 JKT48. Andela bukan lah siapa-siapa di awal karirnya.

Akan tetapi, performance Andela yang di atas rata-rata dan karakternya yang sangat menghibur membuat Andela secara perlahan mendapatkan ‘perhatian’ dari para fans JKT48. Dalam waktu sekejap, Andela memiliki fanbase yang besar dan sangat solid di generasi 3. Fanbase Andela (yang selanjutnya bernama Andelaice) ternyata jauh lebih ‘kuat’ daripada fanbase milik Michelle dan Millenia sekalipun, dua member jagoan manajemen pada saat itu.

Momentum melesatnya karir Andela dimulai ketika dia sanggup menjadi pengganti Millenia (yang baru saja keluar dari JKT48) sebagai center dari setiap penampilan gen 3. Bukan hanya menggantikan, Andela juga mampu menstabilkan dan memperkuat performance dari gen 3 di atas panggung. Gen 3 dengan Andela sebagai centernya terasa berbeda. Konsistensi yang ditunjukkan Andela membuatnya perlahan tapi pasti semakin dipercaya manajemen untuk menjadi ace dari gen 3.

Seakan tak pernah puas, Andela terus memperbaiki penampilannya di atas panggung dan mengembangkan karakternya sebagai idol yang ideal. Kepiawaiannya dalam mengelola kedua hal tersebut membuat dia mendapat julukan ‘idol editan’ dimana seluruh statusnya seakan-akan diedit menjadi ’99’, sebuah representasi nilai sempurna dari sebuah keahlian. Walaupun sebenarnya Andela mendapatkan hal itu bukan hanya karena kebetulan, tetapi karena kecerdasan dan kerja keras. Semuanya perlu proses, ketekunan, dan usaha keras, bukan hanya sesuatu yang instan.

Karir Andela pun makin melesat, walau gagal masuk ke unit song di Pajama Drive Revival Show 2014 karena koalisi yang kurang kuat, fanbase Andela membuktikan bahwa Andela layak masuk ke deretan senbatsu kalender 2015 di bulan Juni. Ini adalah awal dari kegemilangan karir Andela yang terus menanjak.

Setelah team T terbentuk, Andela kemudian terpilih menjadi senbatsu di single Pareo Adalah Emerald bersama Michelle, menunjukkan bahwa sekarang ia telah menjadi pilihan utama manajemen untuk didorong ke depan bersama Michelle yang sudah sedari awal berada di posisi tersebut.

Puncaknya, secara mengejutkan fanbase Andela mampu menempatkan dia di posisi 4 pada pemilihan senbatsu single ke-10 JKT48! Hal ini membuat Andela mencetak sejarah, ia menjadi member generasi ke-3 pertama yang mampu masuk ke dalam jajaran senbatsu di event sousenkyo dan, sampai sejauh ini, menjadi satu-satunya member generasi ke-3 yang mampu melakukannya. Pesaing terdekatnya, Elaine Hartanto, harus puas berada di posisi ke-17 sebagai center undergirls. Ia bahkan menyeruak ke posisi ke-4, mengobrak-ngabrik posisi sejumlah nama dengan fanbase yang biasanya kuat dalam event voting macam Shanju, Kinal, dan Viny.

Hasil Akhir Senbatsu Sousenkyo Single ke-10 JKT48

Bukan hanya mencetak sejarah, Andela juga menjadi kejutan terbesar dalam sousenkyo itu sendiri. Kisah sebentar Andela yang penuh kesuksesan dan kerja keras telah menjadi sebuah ‘idol dream’, impian bagi mereka yang ingin berkarir di dunia idol.

Pada pidato Andela di Senbatsu Sousenkyo Single ke-10 JKT48, Andela menyatakan keinginannya untuk menjadi center di JKT48, menempati posisi yang selama ini diperbutkan oleh Ve, melody, dan Haruka, Ia juga menginginkan ada lebih banyak lagi member generasi ke-3 yang bisa masuk ke dalam jajaran senbatsu.

Sumber: Youtube

Pidato menyentuh dan tulus yang diperlihatkan Andela membuat fans semakin yakin ‘menitipkan’ lentera masa depan JKT48 ke bahu Andela. Ia adalah ace masa kini JKT48 yang mampu mengemban tugas tersebut, demi masa depan JKT48 yang lebih cerah.

-Lentera Masa Depan JKT48-

Akan tetapi, takdir ternyata berkata lain. Tak lama setelah itu, Andela terdiagnosis mengidap suatu penyakit yang membuat dia harus mengakhiri karirnya sebagai pekerja teater dan idol jauh lebih cepat dari yang kita kira. Sama seperti Ruben De La Red dan Jay Williams, Andela tidak sanggup melawan penyakit tersebut dan memutuskan untuk berhenti di saat karirnya sedang melesat naik.

Lentera masa depan yang semula dititipkan di bahunya kini tergeletak begitu saja di lantai. Apakah lentera masa depan itu akan teronggok di atas lantai dan terkubur begitu saja oleh debu? Jawabnya, tentu saja tidak.

Di JKT48, selalu ada regenerasi ace. Sewaktu Cleo dan Ochi dahulu memutuskan keluar dari JKT48, banyak fans menganggap bahwa riwayat JKT48 sudah ‘habis’. Nyatanya, muncul Ve dan Haruka yang akhirnya bisa menggantikan peran mereka dengan lebih baik lagi. Hal serupa terjadi ketika Stella, Sonya, dan Cigull memutuskan untuk keluar dari JKT48, ternyata ada member dari gen 2 dan 3 yang siap menggantikan tempat mereka. Bukan tidak mungkin nanti juga akan ada member yang sanggup menggantikan tempat Andela, entah dari gen 1, 2, 3, atau malah selanjutnya.

Kita memang tidak akan menemukan member yang bisa mengganti ‘personal’ Andela, tetapi pasti akan ada member yang bisa menggantikan ‘peran’ Andela di dalam tim. Peran pengemban tugas mulia untuk membawa lentera masa depan itu ke masa depan yang lebih baik dari hari ini.

Saat ini, sosok terbaik untuk menggantikan peran itu jatuh ke tangan Elaine, partner terdekat Andela dulu sewaktu mengarungi dunia idol. Walau tak menutup kemungkinan akan muncul member lainnya yang lebih baik untuk mengemban peran tersebut di kemudian hari, entah dari sesama gen 3 atau gen lainnya.

Sang fenomenal itu telah pergi, menyisakan kenangan yang indah bagi para fansnya dan menciptakan suatu ‘idol dream’ bagi mereka yang akan bergelut di dunia idol. Akan tetapi roda kehidupan akan terus berputar untuk maju ke depan, meninggalkan kenangan jauh di belakang walau tak’kan dilupakan.

Perjalanan JKT48 masih panjang, bukan saatnya kita larut dalam kesedihan. 🙂

Akan datang saatnya dimana ace baru JKT48 akan lahir dan menggantikan peran Andela, walau personal Andela tak’kan tergantikan di hati fansnya. Terima kasih Andela, semoga lekas sembuh dan kisah sebentarmu menginspirasi fans serta para calon idol lainnya.

comments with facebook

About Jvalz

'Idol Group Enthusiast'. Menulis untuk menuangkan pemikiran.

Check Also

Member JKT48 Foto bersama setelah konser "Wayahe Suroboyo, Rek!"

Sister Group SBY48? Sepertinya Tidak Perlu

  Mulai tahun ini, fans JKT48 di Surabaya akan dimanjakan dengan gebrakan baru dari manajemen …