Monday, 5 December, 2016
Home » JKT48 Fanfict » Favour Mart – Barcode Hati Desy

Favour Mart – Barcode Hati Desy

Favour Mart – Barcode Hati Desy

Favour Mart, 21.48 WIB…
Mata Alfito menatap tajam ke arah seorang gadis yang sedang duduk membaca majalah fashion di salah satu bangku Favour Mart. Sudah beberapa minggu ini ia menyadari kalau hampir setiap malam perempuan berambut panjang itu nongkrong di minimarket tempatnya bekerja.

Akibat rasa penasaran yang meluap-meluap tersebut, Alfito memberanikan diri untuk menghampiri si gadis. Mumpung keadaan di minimarket juga sedang sepi, pengunjung yang ada hanyalah gadis yang memakai kupluk abu-abu dan berkacamata itu.

“Malam mbak,” sapa Alfito ketika sudah berada di dekat si gadis.

“Malam, eh mas kasir. Kenapa mas? Udah mau tutup ya?” dengan nada suara yang terdengar ngapak khas Jawa, si gadis balik bertanya kepada Alfito.

“Walah wong jowo toh hahaha orak kok mbak, minimarket ini buka 24 jam hehehe,” jawab Alfito sambil sedikit menahan tawa karena mendengar “kengapakan” itu.

“Hehehe nggih mas. Trus ada apa ya?”

“Ini mbak, bukannya bermaksud kepo. Kalo saya boleh tau kok akhir-akhir ini si mbak sering banget ya nongkrong disini? Tengah malem gini lagi nongkrongnya”

“Loh kenapa emangnya mas? Nggak boleh ya? Hahaha saya perhatiin juga masnya kok tiap saya kesini jadi kasir terus, gak bosen?”

“Bukannya gitu mbak, ini minimarket usaha keluarga saya, saya tiap malem abis kuliah memang kesini buat bantu-bantu. Mbaknya diem-diem perhatian juga ya hahaha,”

Suasana canda menghiasi percakapan kedua orang yang belum saling kenal itu.
“Kenalan dulu Mas Toge, aku Desy, Maria Genoveva Desy! Asli Cilacap mas Hehehe,” ucapnya sambil menyodorkan tangan kanan untuk bersalaman.

“Hah, kamu manggil aku apa? Toge?” Alfito sedikit tersentak mendengar panggilan itu.

“Lah itu…” ucap Desy sambil tangan kirinya menunjuk papan nama di seragam minimarket alfito yang bertuliskan “ALFITO G.”

“Kan tulisannya Alfito Ge. Bisa dong kalo aku panggil Toge? Ahahaha,” lanjut Desy.

“Astaga.. kamu lucu juga ya ternyata hahahaha, aku Alfito Geraldi. Boleh-boleh aja deh, baru kamu lho orang yang manggil aku Toge, tapi gak usah pake mas lah ahahaha” ucap Alfito sambil menyambut ajakan jabat tangan Desy.

“Btw boleh gak kalo aku panggil kamu Maria aja?” sambung Alfito.
“Gak boleh!” tolak Desy.

“Lho kenapa? kan nama depan kamu Maria, Nyambung dong?”

“Panggil Maria boleh kok, tapi ya gak usah pake aja hahaha lol,”

Alfito dan Desy menjadi larut dalam tawa karena candaan yang dibuat Desy itu. Alfito tidak menyangka kalau Desy memiliki selera humor yang cukup tinggi. Setelah itu, Alfito duduk di bangku sebelah Desy. Mereka berdua lanjut mengobrol untuk saling mengenal.

Itulah awal perkenalan Alfito dan Desy di Favour Mart, minimarket milik Ayah Alfito. Minimarket tersebut memang dilengkapi beberapa bangku dan meja yang bisa dimanfaatkan untuk nongkrong.

Alfito diajarkan bekerja oleh ayahnya sejak kuliah semester satu. Setiap harinya, cowok yang sekarang sudah semester tiga itu mengambil tugas sebagai kasir minimarket dari pukul tujuh malam hingga sekitar pukul dua belas malam.

Jika keeseokan harinya ada kelas kuliah pagi atau tugas kuliah menumpuk, ia hanya akan bertugas sampai pukul sepuluh malam.

Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan (foto: JKT48FC)
Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan (foto: JKT48FC)

Sejak perkenalan itu, Alfito dan Desy menjalin pertemanan. Usia sebaya menjadi salah satu faktor yang mempermudah kedekatan mereka berdua.

Selain itu, mereka menemukan kenyamanan antara satu sama lain.
Penyebab Desy sering nongkrong di Favour Mart pun akhirnya diketahui oleh Alfito.
Ternyata, penyebab Desy sering nongkrong di Favour Mart adalah karena ia sedang menyukai cowok yang bernama Mario.

Dalam suatu kesempatan, Desy bercerita kepada Alfito kalau Mario adalah teman sekelas Desy di kampus yang rumahnya berada di dekat Favour Mart.

Dengan sering nongkrong di Favour Mart, Desy berharap “kebetulan” dapat mempertemukannya dengan Mario di sana. Bagi Desy, sekedar melihat Mario saja sudah lebih dari cukup.

Karena itu, tengah malam sekalipun tak masalah bagi Desy, asalkan rindunya terhadap sang pujaan hati dapat terlepas. Rindu yang membuatnya terkadang sulit tidur di malam hari.

Alfito memang merasa tak asing ketika Desy menunjukkan foto Mario kepadanya. Ia cukup familiar karena beberapa kali pernah melihat Mario berbelanja di Favour Mart. Beberapa kali pula Alfito melihat wajah Desy selalu sumringah ketika habis berbicara dengan Mario, walaupun sering Desy hanya disapa oleh Mario.

“Masih ada ya cewek yang mau-mauan jadi secret admirer, agresif, terus rada baperan gini. Untung manis,” ucap Alfito di dalam hati, suatu waktu ketika Desy sedang menceritakan tentangnya yang jatuh cinta dengan Mario.
“Walaupun aku gak bisa mengungkapkan cinta ke dia, aku tersadar kalo aku fall in love sama dia,” kalimat yang rada atau malah super baper itu pernah diucapkan Desy ketika sedang bercerita dengan Alfito.

Favour Mart, 22.15 WIB, beberapa minggu setelah perkenalan Alfito & Desy…

“Malam Toge!” salam Desy dengan kencang ketika memasuki Favour Mart.
“Malam Maria, kamu kok kesini lagi sih tengah malem gini? Kan udah kubilang jangan sering-sering kayak gitu, kalo kamu sakit gimana? Nanti kalo Mario kesini aku kabarin kamu,” balas Alfito dari meja kasir yang tepat berada di dekat pintu masuk Favour Mart.

“Aku gak bisa tidur Ge, makanya aku kesini. Siapa tahu bisa ketemu Mario hehehe. Dia udah sempet kesini belom Ge?”
“Belom kok,”
Desy langsung masuk ke bagian meja kasir untuk menitipkan tasnya. Karena sudah akrab, Alfito mengizinkan Desy melakukan itu.

“Kalau aja rasa sayangku ke Mario ini kayak barcode yang biasa kamu scan di mesin ini, mungkin ini mesin bakalan bip bip bip terus kali sampe rusak hahaha,” ucap Desy yang ikut berdiri di meja kasir, tepat di samping Alfito.
Alfito bingung, dengan apa ia harus menjawab kalimat super baper dari temannya itu. Dasar cewek humoris, dalam keadaan galau pun masih sempat-sempatnya melucu.

“Mar, aku boleh tanya sesuatu gak? Tapi kamu jangan marah ya,” ucap Alfito pada Desy.
“Tanya aja Ge, emang mau nanya apa sih?”
“Mau sampe kapan kamu kayak gini terus? Ngorbanin waktu kamu tengah malem cuma buat orang yang sama sekali gak pernah ngelirik kamu?” tanya Alfito, secara tak sadar ia sudah mengucapkan kata yang berpotensi menyakiti hati Desy.

“Kok kamu nanyanya gitu sih Ge? Jangan-jangan kamu bosen ya kalo aku sering kesini?”
“Lho bukannya gitu Maria, kamu jangan salah paham dong. Aku Cuma kasihan aja ngeliat kamu kayak gini terus,”
“Aku becanda kok, Toge takut banget sih aku salah paham hahaha. Aku ngerti maksud kamu, aku gapapa Ge. Makasih ya buat perhatiannya,” kata Desy sambil mengelus pundak Alfito.

Alfito yang tadinya sempat takut Desy salah paham menjadi sedikit lebih tenang, ia pun tersenyum. Alfito sebenarnya hanya kasihan pada Desy. Bagi Alfito, cewek seperti Desy terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu.
Nampaknya Desy memang sangat menyukai Mario hingga rela melakukan hal yang bagi Alfito “sangat gila”.

“Majalah fashion yang edisi baru udah ada belom Ge?”
“Ada tuh di rak, kalo mau baca buka aja Mar,”
“Gak bisa gitulah Ge, yang ada kamu bakal dipecat papamu ntar hahaha,”

Desy langsung menuju ke rak majalah yang berada di salah satu sudut Favour Mart, sementara Alfito melayani beberapa pelanggan yang hendak membayar. Ketika kembali ke meja kasir, Desy sudah membawa sebuah majalah Fashion dan sekaleng kopi untuk dibayar.

“Duh ini barcode kenapa sih nggak mau ke scan segala,” keluh Alfito ketika melakukan scan ke belanjaan Desy tersebut. Alfito pun terpaksa harus mengetik nomor barcode kopi kaleng yang tidak bisa discan itu, hal yang paling malas ia lakukan saat sedang ngasir.

“Aku baca majalah dulu ya Ge,” ucap Desy ketika sudah selesai membayar.
“Oke Mar, aku temeninnya ntar ya, gak enak masih ada pelanggan,”
“Sip,” ucap Desy sambil mengacungkan jempol kanannya dan tersenyum.

Desy berjalan ke arah salah satu bangku minimarket yang kosong, sedangkan Alfito belum bisa menemaninya karena masih ada beberapa pelanggan yang berbelanja. Saat sedang sibuk melayani beberapa pelanggan yang membayar di kasir, tiba-tiba terlihat sosok pelanggan yang tak asing masuk ke Favour Mart. Ya, Mario.

Alfito sempat saling sapa dengan Mario ketika cowok pujaan hati Desy itu memasuki Favour Mart. Saat melihat ada Desy di sana, Mario menghampiri Desy yang sedang duduk membaca majalah sambil meminum sekaleng kopi. Seperti biasa, Desy nampak sumringah ketika Mario duduk di sebelahnya.

Kepada Desy, Mario menceritakan kalau ia ke Favour Mart tengah malam begitu karena mau membeli kertas untuk mengerjakan tugas dan beberapa alat tulis lain. Melihat ada Desy disana, kebetulan Mario ingin membicarakan sesuatu dengannya.

Pemandangan Desy & Mario itu menjadi hal yang kurang mengenakan di mata Alfito. Di satu sisi ia senang melihat Desy yang tampak sumringah karena sedang berinteraksi dengan Mario. Namun, ada secuil rasa yang bagi Alfito tak wajar di hatinya. Cemburu.

“Des kebetulan banget nih ada kamu disini, aku mau minta tolong sesuatu boleh?” tanya Mario kepada Desy saat sudah saling duduk bersebelahan. Tentu saja Desy tidak menolak permintaan itu. “Jangankan minta tolong, minta jadi pacar juga boleh,” ucap Desy di dalam hati sambil tersenyum kecil.
Kurang lebih 20 menit Alfito harus “menikmati” pemandangan kebersamaan Mario dan Desy. Namun, ada yang aneh.

Di akhir percakapan antara Desy dan Mario di salah satu meja Favour Mart, Desy hanya memasang muka datar ketika Mario menyudahi percakapan dan pergi membayar belanjaannya di kasir.

“Maria kenapa ya? Apa dia saking senengnya sampe cengo begitu?” Alfito nampak kebingungan, ia pun memutuskan untuk menghampiri Desy setelah menyuruh seorang karyawan minimarket untuk menjaga meja kasir. Kebetulan keadaan minimarket pun sudah tak seramai tadi.

“Hei! Ciee yang seneng abis ngobrol sama pujaan hatinya… cerita-cerita dong,” Alfito menepuk pundak Desy.
Tiba-tiba saja Desy menyenderkan kepalanya di dada Alfito sambil memeluk Alfito. Ia pun kemudian menangis sambil mendekap si kasir Favour Mart itu.

“Lho Maria kamu kenapa? kok nangis? Ada apa sih?” Alfito sangat bingung dengan sikap temannya itu.
Desy tidak menjawab pertanyaan Alfito, ia hanya terus menangis di dalam dekapan Alfito. Alfito pun mencoba menenangkan Desy dengan mengelus-ngelus kepala Desy yang sedang bersender di dadanya.
“Kalo kamu masih mau nangis, nangis aja Mar, luapin semuanya,” Alfito berharap kata-katanya itu bisa membantu menenangkan Desy.

Hati Alfito merasakan sakit melihat Desy yang menangis dalam dekapannya. Sepertinya Alfito sudah mulai menyadari ada perasaan sayang dari hatinya kepada Desy.
Setelah menangis selama beberapa saat, Desy mulai nampak tenang. Ia pun mulai melepas dekapannya kepada Alfito dan bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Mario ternyata udah punya pacar Ge,” ucap Desy dengan nada suara yang sedikit dipaksakan untuk menahan tangis.
“Kamu tau darimana?” tanya Alfito.

“Jadi tadi dia nyamperin aku tuh buat minta tolong pilihin hadiah yang bagus buat ulang tahun pacarnya. Awalnya aku kegeeran kirain dia mau beliin hadiah buat aku waktu dia nunjukin beberapa foto hadiah yang mau dia kasih di hp nya, makanya aku seneng-seneng aja. Pas aku udah pilihin yang menurut aku bagus, ternyata dia bilang kalo dia butuh pendapat cewek buat beliin hadiah untuk pacarnya,” cerita Desy kepada Alfito.

Alfito hanya menjawab cerita Desy tersebut dengan kembali memberikan pelukan kepada Desy. Ia kembali memposisikan kepala Desy di dadanya.
“Aku ngerti banget perasaan kamu. Tenang aja ya, ada aku disini,” kata Alfito sambil membelai rambut panjang Desy dengan tangan kanannya.

“Kamu gak ngerti Toge, gimana sakitnya,”
“Kamu salah Maria, soal seperti ini aku paling ngerti. Apa yang kamu alamin ini udah sering aku alamin. Dari dulu, aku lebih sering ditolak sama cewek yang aku suka. Selalu aja cewek yang aku suka gak pernah menganggap keberadaanku. Jujur aja Mar, aku serasa ngeliat cermin diri aku sendiri sewaktu liat apa yang kamu lakuin selama ini. Mungkin emang Tuhan sengaja mempertemukan kita karena perasaan senasib,”

“Kok kamu gak pernah cerita Ge?”
“Ya karena kamu gak pernah nanya hehehe,”
Walaupun belum bisa menghentikan tangis Desy sepenuhnya, sedikit canda dari Alfito tersebut cukup mujarab untuk membuat Desy sedikit tersenyum.
“Makasih Tuhan untuk Toge,” bisik Desy di dalam hatinya.

Maria Genoveva Desy. Jika ada apresiasi untuk pelanggan yang rutin mengunjungi Favour Mart, mungkin nama itu akan menjadi pemenang pertama. Namun, pasca kejadian yang membuat hati Desy hancur tersebut, Favour Mart tak lagi menjadi tempat yang dikunjungi Desy tiap kali tak bisa tidur.

Tetapi itu semua tak berarti Desy putus komunikasi dengan Alfito. Mereka berdua masih sering berkirim pesan dan bertemu di tempat selain Favour Mart. Tiap minggunya juga mereka sering ke gereja bersama.

Desy hanya tidak mau mengunjungi Favour Mart karena dia takut gagal move on. Alfito mengerti hal itu, sebagai seorang teman yang menyayangi Desy, Alfito selalu berusaha keras untuk menguatkan & menghibur Desy.
Favour Mart, Dua minggu setelahnya, 18.48 WIB…

“Maria Maria…. She reminds me of a west side story…Growing up in Spanish Harlem… She’s living the life just like a movie star…”

Lagu “Maria Maria” yang dipopulerkan Santana menemani malam minggu Alfito di Favour Mart. Ia menyetel lagu itu di speaker minimarket, saat keadaan sedang sepi.

Malam minggu, sangat sedikit orang yang memilih menghabiskan waktu untuk nongkrong di minimarket.
“Ini salah satu lagu favorit aku. Lagu ini alasan kenapa aku lebih suka manggil kamu Maria, walaupun sebenarnya ada satu alasan lain juga sih. Suasana disini bener-bener beda tanpa adanya kamu Mar. Aku sayang kamu Maria, tapi aku takut kalau sekarang-sekarang ini

waktunya gak tepat untuk ngomong itu,” di dalam hati Alfito bersuara seperti itu, sambil mukanya melamun di hadapan meja kasir.

Sampai-sampai Alfito tidak menyadari kalau ada seseorang yang masuk ke Favour Mart.
“To! Fito! Hooii!” sapa orang yang baru masuk tersebut sambil menepuk-nepuk pundak Alfito.
“Eh Papa.. ngagetin aja,” ucap Alfito ketika sudah hilang dari lamunannya.

“Untung papa yang masuk To, kalo orang lain udah abis kali minimarket kita. Kenapa kamu nak? Ada masalah sama perempuan itu?” kata Papanya Alfito sambil berjalan masuk ke area dalam meja kasir.

“Perempuan? Papa sok tahu deh!” Alfito pura-pura tidak tahu.
“Kamu mau coba bohongin papamu, gak mempan lah To hahaha udah cerita aja sama Papa. Siapa sih perempuan yang beberapa minggu lalu kamu peluk itu? Pacar kamu ya? Kamu punya pacar kok gak cerita-cerita sama papa?”
“Lho Papa tau darimana?” Alfito sangat kaget mendengar ucapan Papanya itu.

“Tuh!” kata Papanya Alfito sambil menunjuk Kamera CCTV yang berada di beberapa sudut atas minimarket. “Papa kan selalu kontrol keadaan di minimarket lewat rekaman CCTV. Eh malah liat video anak papa lagi pacaran hahaha sering juga itu cewek ke sini To,” lanjut Papanya Alfito.

“Dia bukan pacar aku Pa, Cuma temen,”
“Tapi kamu sayang kan sama dia To? Papa bisa lihat itu dari mata kamu,”
“Iya Pa, Cuma Fito gak yakin kalau dia juga sayang sama Fito,”
“Kamu nih gimana sih, belum perang masa udah nyerah duluan. Payah banget kamu,”

“Masalahnya sekarang waktunya gak tepat Pa buat Fito bilang ke dia kalo Fito sayang sama dia,”
“Hmmm Papa ngerti To. Tapi kalo menurut Papa, cinta itu gak pernah mengenal waktu yang tepat nak, apapun bisa terjadi di saat yang gak terduga sekalipun. Pesan Papa cuma satu To, jangan sampai kamu kalah sama yang namanya waktu itu. Ngomong-ngomong kalo Papa boleh tahu, siapa nama cewek itu To?”

“Namanya Maria, sama kayak nama Almarhum Mama Pa,”
“Astaga! Tuhan memang luar biasa!”
“Kenapa emangnya Pa?”

Ya, alasan lain kenapa Alfito lebih suka memanggil Desy dengan nama “Maria” adalah kemiripan nama tersebut dengan nama almarhum ibunya. Sebelum menjawab pertanyaan Alfito, sang Ayah terlebih dulu memeluk anak satu-satunya itu dengan erat.

“Kamu mau tahu To? Dulu Papa pertama kali ketemu Almarhum Mama kamu di minimarket ini, waktu papa masih bantu-bantu kakek kamu disini dan sekarang anak Papa juga ketemu wanita yang dicintainya juga di minimarket ini. Gak salah emang kalo nama minimarket ini Favour Mart. Favour artinya berkat, Papa yakin kalau Maria yang kamu sayang itu akan jadi berkat buat kamu To. Sama seperti Almarhum Mama yang jadi berkat buat Papa. Kamu jangan pernah nyerah ya nak,”

Alfito jadi hampir menitikkan air mata saat mendengar jawaban ayahnya itu. Sama sekali tidak pernah disangka olehnya kalau segala “kebetulan” itu bisa terjadi.

“Bip… bip…” Itu bukan suara mesin scan barcode, melainkan suara handphone Alfito yang tiba-tiba berbunyi pertanda ada pesan masuk. Alfito pun melepas pelukan ayahnya untuk mengambil handphone yang ada di saku celana kanannya.

“Ge.. aku lagi di restoran keluarga yang ada di depan Favour Mart nih ” isi pesan teks yang masuk ke handphone Alfito itu.
“Ada apa To?” tanya ayah Alfito.
“Maria Pa, katanya dia lagi di restoran yang di seberang itu,”
“Temui dia nak, nyatakan apa yang kamu rasain ke dia sekarang! Gak ada waktu lagi!”

“Papa yakin?”
“Jangan sampe kamu nyesel To,”
“Baik Pa, doain Fito ya!”

Pasangan ayah dan anak itu pun melakukan high-touch setelahnya. Alfito langsung menuju ke restoran keluarga yang tepat berada di seberang Favour Mart itu.

Keadaan di restoran tersebut cukup ramai. Mayoritas dipenuhi oleh pasangan muda-mudi yang sedang berpacaran untuk menikmati malam minggu. Sesampainya di restoran itu, Alfito langsung mencari Desy.

Alfito menemukan Desy sedang duduk sendirian di salah satu table restoran yang berada di lantai dua. Desy yang bergaya casual dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans panjang terlihat sedang bermain handphone. Rambut hitam Desy yang panjang diurai seperti biasa, model yang sangat disukai Alfito.

“Malam Mar, udah lama disini?” tanya Alfito ketika sudah berada di depan Desy.
“Lho Toge, kamu ngapain kesini?”
“Kan kamu tadi yang sms minta aku kesini,”

“Aku cuma bilang kalo aku lagi di restoran seberang minimarket, gak minta kamu kesini kan?”
“Oh gitu, iya juga sih,” kata Alfito yang kemudian berbalik badan untuk pergi.
Desy langsung bangkit dari tempat duduknya saat melihat Alfito yang hendak pergi. Kemudian ia menahan tangan Alfito.

“Toge! Jangan pergi, aku Cuma bercanda kok hehehe. Aku emang suka rada rese kalo lagi laper,”
“Hah Maria Genoveva Desy, kamu tuh ya resenya bikin orang mau berubah jadi raksasa ijo aja hahaha,”
Alfito pun tidak jadi pergi dan duduk di depan Desy. Tak berapa lama, mereka berdua memesan makanan ke pelayan restoran. Sambil menunggu pesanan, mereka lantas mengobrol.

“Haduhh ini restoran isinya kok orang berpasangan semua ya hahaha,” ucap Alfito memulai obrolan. Sekalian bermaksud ngode xp.
“Iya Ge, suaranya juga pada berisik, ampe Favour Mart juga kedengeran kali ya suara mereka hahaha gak tau ada pasangan jones juga apa. Udahlah daripada ngomongin orang pacaran bikin sakitnya tuh disini mending aku cerita lucu aja kali ya. Toge mau denger gak?”

“Hmm boleh deh, tapi kalo gak lucu kamu musti traktir aku ya hahahaha becanda Mar,”
“Yee haha tadi kan aku kesini pake taksi. Terus masa supir taksinya konyol banget deh,”
“Konyol gimana maksud kamu?”

“Jadi gini Ge, waktu aku baru masuk taksi masa supir taksinya langsung nyerocos wahh cowoknya mana neng? Jahat amat ditinggal? Yaa aku jawab aja kalo aku gak punya cowok. Terus masa dia nyumpahin aku bisulan kalo aku bohong hahahaha,”

“Hahaha ada-ada aja itu supir taksi, terus-terus?”
“Yaa aku bilang silahkan aja kalo mau nyumpahin, orang beneran kok hahaha terus kan dia nanya masa ga punya cowok sih neng? Neng kan cantik, manis, masa gak dimanfaatin? Aku jawab hahaha kasian amat dimanfaatin? Terus itu supir taksi jawab lagi dimanfaatin untuk ngobrol gitu neng, apalagi neng orangnya gak matre hahaha,”

“Aku kan bingung gitu darimana dia bisa tahu kalo aku gak matre. Terus masa dia jawab kalo bentuk alis aku itu nunjukin kalo aku gak matre hahahahaha sumpah deh kalo ada anugerah supir taksi terjayus mungkin bapak itu yang menang,”

Alfito dan Desy menjadi tertawa ngakak karena kisah si supir taksi yang diceritakan Desy tersebut. Mereka berdua tertawa dengan sangat lepas.
Alfito cukup senang melihat Desy yang tertawa lepas, seakan ia sudah melupakan segala beban. Apalagi saat tertawa lepas, kedua mata Desy yang melengkung tertutup seolah ikut tersenyum, sama seperti hati Alfito yang sedang tersenyum melihat itu semua.

Tak berapa lama kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan datang juga. Setelah melakukan doa bersama sebelum makan, Alfito dan Desy langsung menyantap makanan dengan lahap karena perut mereka masing-masing sudah berteriak encore #eh.

“Maria kamu gak lagi buru-buru kan?” tanya Alfito sambil menyantap makanan.
“Gak kok, kenapa Ge?” jawab Desy sambil melakukan hal yang sama
“Gak papa sih, Cuma ada yang mau aku omongin aja abis makan. Bisa kan?”
“Bisa kok,”
“Sip deh, yaudah makan aja dulu,”

Saking lahapnya menyantap makanan, mereka tidak perlu waktu lama untuk menghabiskannya. Setelah itu, mereka langsung meminta bill kepada pelayan.
Awalnya Alfito hendak membayar semua pesanan mereka berdua. Namun Desy menolaknya, ia lebih memilih agar membayar pesanan masing-masing saja.

“Supir taksi itu bener Mar, kamu ternyata gak matre ya hehehe,” ledek Alfito setelah menyerahkan uang kepada pelayan restoran. Desy reflek mencubit lengan kanan Alfito sambil memanyunkan bibirnya karena merasa “tersindir”.
“Toge katanya mau ngomong sesuatu, ada apa,”
“Hmm kayaknya sih kurang enak deh kalo disini. Kita kesitu aja yuk!” kata Alfito sambil menunjuk ke salah satu pintu di sudut restoran.

Pintu yang ditunjuk Alfito itu adalah pintu menuju rooftop garden, sebuah halaman terbuka atau tanpa atap yang merupakan fasilitas dari restoran tersebut. Secara tak sadar, Alfito menggandeng tangan Desy ketika membawanya menuju ke rooftop garden.

Ketika sudah sampai di rooftop garden, mereka berdua langsung disambut angin sejuk khas malam hari. Orang-orang dari berbagai kalangan memenuhi tempat itu, dari pasangan pacar sampai anak-anak kecil yang sekedar bermain-main dengan keluarganya. Pemandangan kota sekitar restoran yang sangat indah bisa dilihat dari sana.
Alfito membawa Desy ke salah satu titik di sana yang dianggapnya pas untuk menyatakan perasaannya.
Inilah saatnya…

“Kamu mau ngomong apa sih Ge? Aku jadi penasaran nih,” tanya Desy.
“Ini Mar, aku sebenarnya…”

Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Alfito langsung memeluk Desy. Seperti saat pertama kalinya mereka berpelukan, Alfito memposisikan kepala Desy tepat di depan dadanya yang terdengar berdetak kencang.

“Rasain yang aku rasain Maria. Kamu bisa denger kan suara hati aku? Suara ini layaknya suara mesin scan barcode, dan cuma barcode hati kamu Maria yang selalu bisa bikin suara kayak gini. Buktinya sekarang hati aku ini detaknya kenceng banget kan waktu deket kamu. Mungkin ini terlalu cepat, tapi seseorang bilang ke aku kalo cinta gak pernah kenal waktu. Aku sayang kamu Maria, apakah kamu juga punya perasaan yang sama?”

Desy hanya terdiam dalam dekapan Alfito dan tidak memberikan jawaban apapun dari mulutnya atas pernyataan Alfito tersebut.

Beberapa saat kemudian, Desy melepas pelukan Alfito. Alfito dengan senang hati melepaskannya.
“Kamu pernah bilang kalo perasaan senasib yang mempertemukan kita di Favour Mart waktu itu. Bagi aku, bukan perasaan senasib yang mempertemukan kita Ge, tapi nasib baik yang udah membuat kita bertemu,” kata Desy.
Sesaat setelah flashback singkat dari Desy tersebut, Desy menggenggam tangan Alfito sambil berkata…

“Jangan pernah tinggalin aku ya, scanner barcode hatiku. Aku sayang kamu Ge!”
Level tertinggi kebahagiaan langsung muncul di hati seorang Alfito Geraldi ketika tahu kalau cintanya yang sekarang tak lagi cinta kecil yang satu arah. Alfito kembali memeluk Desy sambil membelai rambut panjangnya, rasanya sekarang Alfito tak mau lagi melepaskannya.

Tak pernah sedikitpun terlintas di benak Alfito kalau ia akan menemui seseorang yang sangat disayanginya di minimarket milik sang ayah. Itu semua terasa lebih spesial karena kisah cintanya tersebut juga mirip-mirip dengan sang ayah dan almarhum ibunya.

Semenjak saat itu, Alfito dan Desy percaya kalau tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Menurut mereka, kebetulan itu adalah skenario yang telah disiapkan oleh Tuhan secara rahasia alias tanpa diketahui oleh siapapun :p.
Salam dari Alfito “Toge” Geraldi & Maria Genoveva Desy untuk kalian semua, yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini 

~The End~

credit: Putra Randy Hengki

@PutraRandy_

ingin Fanfict/Cerpen kamu dimuat disini?

kirimkan ke email: [email protected]

subyek: #JKT48Fanfict

comments with facebook

About Vikoo E

Check Also

jkt48fans.com

MND (Mawar Natal Desy)

Jakarta, hari ke 18 di bulan desember.. Jika mendengar kata “malam minggu” atau yang akrab …