Wednesday, 7 December, 2016
Home » JKT48 Fanfict » MND (Mawar Natal Desy)

MND (Mawar Natal Desy)

Jakarta, hari ke 18 di bulan desember..

Jika mendengar kata “malam minggu” atau yang akrab disebut malming, apa yang biasanya
terbesit di benak kalian? Pacaran? Makan malam romantis? Atau jalan-jalan? Ya, itu memang
beberapa mindset mainstream tentang malming. Namun, mindset mainstream itu nampaknya
tidak berlaku untuk pasangan sahabat Matius Beta Romkeny & Maria Natalia Desy.

“Yes! Aku menang! Aku menang lagi!,” ucap Desy dengan gembira.

“Kamu ni memang paling jago Nondes kalo main bola di PS (Play Station). Aku kalah lai

(lagi),” Beta mengakui kekalahan.

“Masbet boleh jago main bola di lapangan. Tapi kalo di PS, Desy seng ada lawan!
Ahahahaha,” Desy meledek Beta, ia menirukan logat ambon ciri khas Beta.

“Nondes ini, aku rapopo lah hahaha,” Beta membalas ledekan Desy dengan menirukan logat
jawa ngapak khas Desy.
“Hahaha Masbet tuh ndak cocok ngomong jawa, tapi lucu juga sih hihihi,”

Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan (JKT48FC)

Anti mainstream memang, dua sahabat yang berbeda suku ini menghabiskan malming
mereka dengan bermain PS di tempat rental sederhana.

“Sesuai janji ya, Masbet harus bayari rental sejam ini sama traktir aku makan nasgor Pak
Marihot!,” tagih Desy kepada Beta.

“Iyo (Iya) sudah, se (kamu) tenang saja Nondes. Ayolah, aku su (sudah) lapar nih!”
Beta membayar ongkos rental yang jumlahnya tidak perlu disebutkan ke operator tempat
tersebut.

Setelah itu, mereka berdua menuju ke tenda jajanan malam yang berada tepat diseberang rental PS.

Sesampainya di tenda tersebut, mereka langsung ke kedai yang bertuliskan “nasgor marihot”.

“Malam bang Marihot!” Beta & Desy kompak memberi salam kepada Pak Marihot.

“Malam! Akhirnya datang juga ini pelanggan setia malam minggu, si duo jambon (jawaambon)
hahahaha,” Pak Marihot membalas salam dari Desy & Beta. Julukan Jambon dibuat
oleh tukang nasgor asal Batak itu, karena Beta & Desy sudah sering menghabiskan malming
dengan “dinner romantis” di kedai miliknya hahaha.

“Biasa ya bang, nasgor spesialnya dua! Nanti si *nyong ambon kita ini yang bayar, biasalah
kalah lagi main PS sama aku hahahaha,” ujar Desy kepada Pak Marihot. *nyong: sebutan
untuk anak laki-laki dalam bahasa ambon*

“Ah Nondes ini, bikin aku malu aja,” ucap Beta sambil memasang wajah malu-malu lollipop
*eh.

“Yee becanda Masbet, itu muka jangan ditekuk gitu dong hahahaha,” balas Desy kepada Beta.

“Hahahaha duo jambon ni memang ada-ada saja lah. Ya sudah kalian duduk saja, nanti biar
pesanannya ku antar ya!” Pak Marihot mempersilahkan duo jambon itu untuk duduk.

Beta dan Desy langsung menempati meja kosong yang dekat dengan kedai nasgor itu. Sambil
menunggu Pak Marihot memasak nasgor pesanan, mereka lantas mengobrol santai untuk
menunggu.

“Nondes, kamu masih ingat kah waktu kita pertama ketemu?” Tanya Beta kepada Desy.
“Pasti inget lah Masbet, ampir dua tahun lalu waktu MOS SMA. Berarti udah lama juga ya
kita temenan,” Jawab Desy sambil tersenyum.

“Iya Nondes. Waktu itu kamu orang pertama yang panggil aku Mas hahaha Mas Beta sampe
sekarang jadinya Masbet,”

“Masbet juga orang pertama yang panggil aku Nona, kebawa sampe sekarang deh dipanggil
Nondes alias Nona Desy hahaha. Mungkin waktu itu kita gampang akrab karena sama-sama
anak perantauan kali ya,”

“Mungkin juga karena Nondes dan aku sama-sama medok kalo bicara hahahaha,”
Mereka berdua sedikit mengenang pertemuan pertama mereka yang terjadi hampir dua tahun
yang lalu. Selama itulah mereka telah berbagi suka-duka sebagai pasangan sahabat.

Desy adalah anak perantauan dari Cilacap yang dikirim ortu-nya ke Jakarta untuk sekolah
tingkat atas alias SMA. Katanya sih ingin diajarkan hidup mandiri. Di Jakarta Desy ngekos.
Sedangkan Beta adalah anak perantauan dari Ambon yang sudah tinggal di Jakarta semenjak
masih SMP. Di Jakarta Beta tinggal bersama sang oma (nenek), karena kedua orang tuanya
sudah meninggal dunia sewaktu kerusuhan yang pernah terjadi di kota berjulukan manise itu.
Kini mereka sudah sama-sama kelas tiga SMA dan sedang menikmati libur natal & tahun
baru.

“Oi Nondes! Nondes! Kok ngelamun?” Beta berusaha menyadarkan Desy yang terlihat
melamun.

“Eh maap Masbet, aku nggak papa kok,” kata Desy setelah sadar dari lamunannya.

“Kau mau tipu aku ya Nondes? Aku kenal kau ni su (nih sudah) dua tahun, kalau kau
melamun begini pasti ada yang kau pikir. Ada apa? Ceritalah sama aku,”

rumah buat natalan,” Cerita Desy sambil menunjuk sebuah keluarga yang sedang
terlihat menikmati kebersamaan di meja dekat mereka.

“Sabar ya Nondes, kau punya keluarga pasti rindukan kamu juga disana,” ucap Beta sambil
membelai kepala Desy.

Hal sederhana yang dilakukan oleh Beta itu ternyata cukup untuk membuat Desy tersenyum
kembali.

“Nah gitu dong Nondes, kan cantik kalau senyum begitu hahaha,”

“Hmm Masbet gombal ah,” balas Desy sambil mencubit lengan kanan Beta.

“Aw! Kamu ni, orang ada puji malah dicubit hahaha. Oia Nondes, minggu depan kan natal &
ulang tahun kamu juga ya. Kamu ingin hadiah apa?”

“Oh jadi Masbet minta aku kodein buat hadiah? Hahahaha Masbet nih ada-ada aja. Apa aja
yang Masbet kasih pasti aku terima, nggak ngasih juga rapopo kok hehehe,”

“Kamu tunggu aja ya, aku udah siapin kejutan kok buat hadiah natal & ulang tahun Nondes.
Jadi aku yang kode hahaha,”

“Wah Masbet bikin penasaran aja nih, jadi pengen cepet-cepet natal hahahah. Yang penting
tanggal 24 nya kita jadi kan ikut *misa malam natal di gereja Salvator?” *misa: Sebutan
untuk salah satu ibadah dalam Agama Katolik*

“Jadi dong Nondes, aku mau lihat paduan suara anak-anak SD yang satu yayasan sama
sekolah kita, mereka kan tampil nanti,”

“Oo itu iya iya. Mereka kan katanya dilatih vocal sama Pak Hentje penyanyi terkenal yang
asalnya dari Ambon itu. Pasti bakal bagus banget tuh.”

“Ya makanya aku mau liat, aku juga ngefans sama Bapak Hentje itu hahaha. Yasudahlah kita
makan dulu kalo begitu Nondes, itu Pak Marihot su mau bawa kita punya pesanan,”

Karena sudah didera rasa rindu #eh maksudnya rasa lapar yang tak tertahankan, Masbet &
Nondes langsung menyantap nasi goreng spesial yang telah mereka tunggu-tunggu itu. Di
sela-sela waktu makan, mereka berdua sesekali bercanda.

Untung saja setelah selesai makan mereka berdua tidak melupakan sesuatu yang sangat
penting. Ya, minum segelas es teh manis yang mereka pesan di tempat sama.

Sehabis makan, Beta & Desy menemui Pak Marihot untuk membayar semua pesanan dari

“dinner romantis” yang ditanggung oleh Beta. Sekalian pamit karena mereka berdua ingin
berjalan-jalan.

oleh mereka berdua dengan cara seperti ini. Sepintas, orang yang melihat
kebersamaan Beta & Desy pasti mengira kalau mereka sedang berpacaran.

Tiba-tiba saja langkah Desy terhenti di depan sebuah toko bunga yang mereka lewati.
Tatapannya tertuju pada suatu bunga mawar putih yang terpajang di toko itu.

“Nondes mau beli bunga? yang mana? Nanti aku belikan,” kata Beta.

“Eh, enggak kok Masbet. Aku cuma keinget ibuku aja karena ibu paling suka ngehias rumah
pakai bunga mawar putih kalo mau natal. Aneh sih emang, tapi kata ibuku mawar putih itu
bagus aja buat hiasan natal,”

“Oh gitu, yaudah biar kubelikan satu ya buat Nondes. Mungkin saja bisa sedikit mengobati
kamu punya rindu itu,”

Desy sebenarnya menolak tawaran dari sahabatnya itu, namun Beta tetap bersikeras
membelikan sekuntum mawar putih untuknya. Desy menerimanya dan mengucapkan terima
kasih untuk Beta.

Tak lama kemudian mereka berdua kembali ke tempat rental PS karena Beta menitipkan
motornya untuk parkir disana. Beta mengantar Desy pulang ke tempat kos nya karena waktu
sudah semakin malam.

Ketika sampai di depan tempat kos Desy…

“Makasih banyak ya Masbet buat hari ini, aku seneng!”

“Sama-sama Nondes, besok aku jemput ya. Kita gereja sama-sama kayak biasa!”

“Sip! Yaudah deh Masbet pulang gih, nanti nenekmu khawatir lagi,”

“Itu sih tenang sa Nondes, kan aku bilangnya pergi sama kamu, oma seng akan khawatir
hahaha. Lagipula aku belum mau pulang ah,”

“Udah gih pulang sana! Bandel nih Masbet hahaha.. takut kangen sama aku ya?”

“Yee kau ni ge-er sekali Nondes! Jelas lah aku belum mo pulang, helmku saja masih kamu
pegang itu hahaha,”

“Oh! Yaampun hahahaha… jadi malu aku, ini Masbet helmnya, makasih ya!”

“Oke deh Nondes, aku pulang dulu ya. Dadah!!”

“Hati-hati ya Masbet, dadah!”

***

Beberapa hari setelah malam minggu itu dan gereja bersama pada hari minggu, Beta memilih
untuk tidak dulu bertemu dengan Desy. Pilihan Beta itu bukan tanpa alasan, karena ia sedang
menyiapkan suatu kejutan yang dijanjikannya pada Desy.

Beberapa kali Desy mengajaknya bertemu, namun Beta selalu berkilah kalau dia sedang ada
urusan yang tak bisa ditinggalkan. Hmm.. apa sebenarnya kejutan yang sedang disiapkan
Beta?

Rumah Beta, Hari ke 21 di bulan Desember…

“Permisi Oma, boleh bicara sebentar kah?” ucap Beta kepada neneknya yang sedang
menonton TV di ruang keluarga.

“Boleh dong nyong, sini duduk!” Beta langsung duduk di sebelah neneknya ketika mendapat
izin itu.

“Ada apa nyong?” Neneknya Beta lanjut bertanya setelah Beta duduk.

“Begini Oma… eee gimana ya?” Beta terlihat gugup untuk menyampaikan sesuatu yang
tertahan di hatinya.

“Tenang nyong, seng usah gugup. Coba anggap saja Oma ni seperti kamu punya teman, seng
usah takut,” Neneknya Beta coba menenangkan Beta itu sambil mengelus pundak cucunya itu.
Setelah merasa lebih tenang, Beta mencoba untuk menyampaikan apa yang ada di dalam
hatinya.

“Begini Oma, Oma masih ingat Desy kan?” ucap Beta dengan perasaan yang lebih tenang.
“Oh Desy, tentu Oma ingat dong. Kamu punya sahabat itu kan, yang sering kamu ajak ke
rumah juga. Kenapa nyong? Kamu ada masalah kah sama dia?”

“Bukan Oma, Beta tidak ada masalah sama dia. Cuma Beta rasa kalooo…. Beta jatuh cinta
sama Desy Oma,”

Sekilas neneknya Beta tampak kaget mendengar ungkapan hati cucunya itu. Tak ada jawaban
dari neneknya Beta, namun ia langsung memeluk Beta dengan erat.

“Cucu Oma sudah besar ya, sudah bisa jatuh cinta. Kamu sudah bilang perasaanmu itu ke dia
nyong?”

“Belum Oma, rencananya Beta mau bilang ke dia nanti abis misa malam natal. Tidak papa
kan?”

“Sebentar ya nyong,”

Neneknya Beta tidak menjawab pertanyaan itu. Beta hanya terdiam menunggu neneknya
yang terlihat masuk ke kamar. Sekembalinya dari kamar, Neneknya Beta membawa sebuah
kotak yang diberikan kepada Beta.

Beta sambil memberikan sebuah kotak.
“Apa ini Oma?”

“Itu milik almarhum mamamu nyong, dulu Oma yang kasih itu ke mamamu. Sekarang, Oma percaya kalo Desy pantas terima itu. Oma dukung kamu nyong! Dari awal liat Desy, Oma

yakin kalau dia itu perempuan yang baik buat kamu,”

“Terima kasih ya Oma,”

Percakapan itu ditutup dengan pelukan penuh cinta yang diberikan Beta kepada neneknya.
Apa gerangan yang ada di dalam kotak pemberian neneknya Beta itu? Kepo ya kalian?
Tunggu nanti saja ya waktu hari “penembakan”! :p

***

Lebih cepat dari hari di kalender, begitulah penggalan lirik lagu dari grup popular yang
pantas untuk menggambarkan situasi saat ini. Tak terasa sudah H-1 Natal & hari
bertambahnya usia seorang Maria Natalia Desy.

Berbagai persiapan sudah dilakukan Beta untuk malam ini, malam yang ia harap menjadi
malam natal terbaiknya itu. Kejutan yang mungkin tak pernah diduga-duga oleh Desy & kita
semua itu sudah ia siapkan sebaik-baiknya.

Selain itu, beberapa hari ini Beta jadi lebih sering ngaca. Bukan, bukan karena tingkat
narsisnya meningkat. Kaca tersebut menjadi sarana untuk latihan menyatakan cinta pada
Desy XD.

Rumah Beta, Hari ke 24 di bulan Desember…

“Nondes, jam 7 aku jemput ke kosan ya. Nanti rambut kamu di-ponytail dong, aku mau kasih
kejutan.. boleh ya? Hehehe..” isi pesan singkat yang dikirimkan Beta kepada Desy beberapa
menit lalu.

Beta sendiri sedang sibuk memilih-milih pakaian yang ingin dipakainya untuk misa malam
natal nanti. Tentunya di malam yang sudah ditunggu-tunggu olehnya ini, ia ingin terlihat rapi
di depan pujaan hatinya itu.

“Ding-dong..”

Itu bukan suara bel tamu rumah, melainkan suara hp (handphone) beta yang menandakan ada
pesan masuk. Ternyata ada pesan balasan dari Desy.

“Oke deh.. buat Masbet apa sih yang nggak hehehe jadi makin penasaran nih sama
kejutannya.. Ni aku udah siap2 kok, sampe nanti Masbet!”isi pesan balasan dari Desy.
Beta tidak membalas lagi pesan itu, Ia memilih untuk lanjut bersiap-siap.

Cukup lama waktu yang dihabiskan Beta hanya untuk mengurusi penampilannya saja. Baru
kali ini seorang Matius Beta Romkeny terlihat serepot ini, layaknya sedang mempersiapkan
diri untuk bertemu Presiden.

Blazer hitam dengan dalaman kemeja putih polos akhirnya dipilih Beta untuk momen ini.
Untuk bawahan ia memilih celana jeans biru, agar tidak terlalu berkesan formal.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, berarti sudah saatnya Beta menjemput Desy
agar ia tidak terlambat. Tak lupa, Beta memasukkan “warisan” yang diberikan neneknya ke
dalam saku blazer yang ia pakai. Ya, sesuatu yang diberikan oleh neneknya dalam suatu
kotak di tempo hari.

Setelah sudah merasa siap 100%, Beta langsung pamit kepada neneknya untuk pergi. Kali ini
Beta meminjam mobil neneknya yang biasa dikendarai supir pribadi untuk ia bawa sendiri.
Sang nenek memberi izin, tak lupa ia juga mendoakan yang terbaik untuk cucu
kesayangannya itu.

Pukul 18 lewat 55 menit, di depan tempat kos Desy
Beta mengirimkan pesan singkat kepada Desy, mengatakan kalau ia sudah sampai di depan
tempat kos Desy. Desy memintanya untuk menunggu sebentar, tentunya Beta dengan senang
hati melakukannya.

Beberapa saat kemudian, muncul malaikat surga yang turun dari langit, setidaknya itu yang
terlihat dari mata Beta. Yap, Desy telah selesai bersiap-siap dan ia terlihat berjalan keluar
kosan ke arah mobil Beta.

Penampilan Desy hari ini nampak sangat berkilau di mata Beta. Dress putih motif bungabunga

ungu pada bagian rok yang dipadu dengan cardigan cokelat tua dipilih Desy untuk
fashionnya malam ini.

Desy juga sedikit menggunakan bedak untuk wajahnya, tetapi tidak

sampai menutupi kecantikan wajah natural khas jawa tengah yang ia miliki.

Rambut Desy di-ponytail sesuai dengan permintaan Beta, ia melengkapinya dengan model
poni rata depan. Jarang memang bisa melihat Desy seperti ini, karena biasanya ia memakai
model poni samping.

Beta yang keluar dari mobilnya untuk menyambut Desy sampai dibuat freeze seperti laptop
yang sedang tidak dipakai.

“Masbet! Masbet! Hei! Ada yang salah sama penampilanku?” Tanya Desy sambil
melambaikan tangannya di depan wajah freeze Beta yang sekarang berdiri didepannya.

“Eh, maaf Nondes! Maaf.. tidak ada yang salah, kamu cantik. Cantik sekali,” jawab Beta
dengan nada gugup. Mungkin baru kali ini Beta tampak sebegitu gugup di depan sahabat
yang telah menemaninya selama dua tahun itu.

“Makasih Masbet!” kata Desy sambil tersenyum manis. “Yaudah, kita berangkat sekarang
yuk! Nanti telat lagi,” ajak Desy kepada Beta.

“Iya, mari kita berangkat,” ucap Beta sambil membuka pintu mobil bagian depan dan
mempersilahkan Desy.

Namun, bukannya masuk ke mobil, Desy malah tertawa sendiri.

“Lho Nondes kenapa ketawa? Ayo masuk,” Beta kebingungan melihat Desy yang tertawa.

“Masbet mau suruh aku jadi supir? Hahahaha…”

Ternyata Beta salah membukakan pintu mobil. Bukannya membuka pintu depan bagian
penumpang, Beta malah membukakan pintu bagian supir. Beta jadi ikut tertawa sambil
menutup wajahnya dengan tangan karena merasa malu. Hal itu mungkin menjadi puncak dari
kegugupan Beta yang terpesona oleh kecantikan Desy hari ini.

Gereja Salvator, pukul 19 lewat 50 menit

Suasana Gereja Salvator sudah mulai ramai, dipadati umat katolik yang hendak mengikuti
misa malam natal. Beta & Desy kebagian tempat duduk di bagian tengah, sekitar row ke 10
dari mimbar & panggung utama gereja itu.

Mereka berdua juga sempat bertemu dengan beberapa teman sekolah saat baru sampai di
halaman gereja yang bisa dibilang megah itu. Maklumlah, karena cukup banyak siswa-siswa
dari sekolah mereka berdua yang menjadi “pengisi acara” dalam misa itu.
Saat baru duduk di bangku gereja, Beta & Desy mengambil waktu hening untuk sedikit
memanjatkan doa. Beta tak lupa menyisipkan harapan untuk kelancaran kejutan yang telah
disiapkannya di dalam doanya itu.

Pukul delapan lewat beberapa menit, misa itu pun dimulai…

Pukul 23 lewat lima menit

Di akhir misa malam natal itu, penampilan yang sudah ditunggu-tungu oleh Desy & Beta
akhirnya tiba. Ya, pertunjukkan paduan suara dari anak-anak sekolah dasar yang satu yayasan
dengan sekolah mereka.

“Silent night… Holy night… all is calm, all is bright. Round yon virgin, mother & child. Holy
infant… tender & mild. Sleep in heavenly peace…. Sleep in heavenly peace..”

Alunan suara lembut khas anak-anak yang berjumlah 20 orang itu mulai menyanyikan lagu
Silent Night di atas panggung utama. Pak Hentje, yang melatih anak-anak itu bertugas
sebagai dirigen.

Kelompok paduan suara tersebut bernyanyi sambil memegang sebuah lilin kecil.
Diredupkannya beberapa lampu utama gereja membuat lilin-lilin kecil itu makin
menggambarkan suasana lagu Silent Night.

Seluruh jemaat gereja ikut bernyanyi karena terbawa suasana damai natal, tak terkecuali Beta
& Desy. Beta dengan berani menggenggam tangan kiri Desy saat sedang ikut bernyanyi.

Terbawa suasana, Desy balas menggenggam tangan kanan Beta.
Misa malam natal selesai, saat yang paling ditunggu…

Ketika ibadah tersebut telah selesai, Beta meminta Desy untuk menunggu sebentar,
menunggu agar suasana lebih sepi. Mereka berdua pun mengobrol sambil melihat-lihat
jemaat yang mulai keluar meninggalkan gereja.

Ketika suasana di gereja sudah mulai sepi, Beta memulai proses kejutan yang telah ia siapkan.
“Nondes, sesuai janji, aku akan kasih kamu kejutan. Sekarang aku tutup mata kamu ya,” ucap
Beta sambil mengambil sebuah kain sapu tangan di saku blazernya.

“Aduhhh Masbet bikin aku makin penasaran nih. Yaudah deh aku nurut aja, tapi aku jangan
diapa-apain ya hahaha,” balas Desy.

“Tenang saja Nondes, kamu pikir aku teroris apa hahaha,”
Beta mulai menutup mata Desy dengan kain sapu tangan itu. Setelahnya, ia mulai menuntun
oshimen hatinya itu untuk keluar dari gereja. Kemanakah Beta akan membawa Desy? Ke
hatinya sendiri tentunya #ehmaapsalah. Sebuah taman dengan luas sedang yang terletak di
halaman belakang gereja Salvator adalah jawabannya.

Taman itu diberi nama Blessed Garden (taman yang diberkati) oleh pihak Gereja Salvator.
Sesuai dengan artinya, tiap pengunjung taman tersebut diharapkan akan senantiasa diberkati
nantinya.

Ketika sudah berada di dekat Blessed Garden, Beta memastikan dulu apakah semua elemen
kejutannya sudah lengkap. Sudah lengkap ternyata, saatnya untuk masuk ke Blessed Garden.
Ketika sudah menempatkan Desy pada titik yang tepat di Blessed Garden, Beta langsung
membuka penutup mata Desy.

Dan ternyata….

“I don’t want a lot for Christmas.. There is just one thing I need. I don’t care about the
presents… Underneath the Christmas tree…”

“I just want you for my own… More than you could ever know. Make my wish come true…
ALL I WANT FOR CHRISTMAS IS YOUUUUU!”

Di depan hadapan Beta & Desy berbaris rapi 12 anak SD yang tadi menampilkan paduan
suara Silent Night di misa malam natal. Kini ke-12 anak tersebut menyanyikan All I want For
Christmas Is You dari Mariah Carey, sambil masing-masing anak memegang sekuntum
mawar putih.

Ini semua disiapkan oleh Beta untuk menyampaikan perasaannya serta membawa suasana
natal ala rumah Desy kepada pemilik hatinya itu.

Beta & Desy memberikan tepuk tangan untuk mengapresiasi mini perform dari anak-anak SD
itu ketika mereka selesai bernyanyi. Setelahnya, satu-persatu anak SD tersebut memberikan
mawar natal yang mereka pegang kepada Desy. Desy menerimanya dengan senang hati,
sesekali ia mengucapkan terima kasih sambil membelai kepala anak-anak yang
menghampirinya itu.

Beta sudah menyiapkan sebuah keranjang bunga yang diletakkan di depan Desy. Jadi,Saat
sudah mulai kerepotan karena memegang 12 tangkai bunga mawar putih, Desy langsung
menaruh bunga-bunga tersebut di keranjang itu.

“Gimana penampilan anak-anak asuh Om? Keren kan?” ucap seseorang dengan tiba-tiba dari
belakang Beta & Desy. Ternyata itu adalah Pak Hentje, pelatih vokal anak-anak tersebut.
“Keren Om, dangke banya voor bantuannya ee (terima kasih banyak buat bantuannya)!”
balas Beta kepada Pak Hentje sambil melakukan high-touch.

“Ok, berarti sekarang selesaikan tugas kamu nyong. Anak-anak, tugas kita sudah selesai!”

Pak Hentje dan 12 anak SD itu langsung pergi meninggalkan Beta & Desy di taman setelah
mendapat komando tersebut. Desy nampak kebingungan melihat itu semua.

“Bapak Hentje itu Om aku Nondes, aku sengaja minta bantuan dia,” jelas Beta kepada Desy.

“Oh… hahahahaha,” Desy hanya tertawa mendengar penjelasan super singkat itu.

“Nondes, kamu suka gak sama kejutannya?”

Desy hanya menjawab pertanyaan Beta dengan anggukan kepala yang dihiasi senyuman
malu-malu. Entah karena speechless ataupun terlalu terkagum-kagum.

“Kejutannya belum selesai Nondes..,”

Beta mulai lebih serius. Ia memegang tangan kanan Desy dengan tangan kirinya, sambil
tangan kanannya hendak mengambil sesuatu dari saku blazer yang ia pakai.

“Ini kalung peninggalan Mamaku Nondes, Aku disuruh kasih kalung ini ke perempuan yang
aku cintai,” kata Beta setelah menaruh sebuah kalung salib di tangan kanan Desy.
Benar, benda yang ada di dalam kotak pemberian neneknya Beta adalah kalung salib
peninggalan ibunya Beta.

“Aku cinta kamu Nondes, maukah kau jadi pacarku? Jadi kado natal terindah dalam hidupku?”

Tepat pukul 12, Akhirnya pertanyaan menembak itu keluar dari mulut seorang Matius Beta
Romkeny, saat hari natal & ulang tahun Desy yang ke 17. Pertanyaan itu sempat membuat
Desy terlihat kaget.

“Masbet…. Aku bingung mau jawab apa…,” jawaban yang tidak diharapkan itu membuat
Beta melepas pegangannya dari tangan Desy.

“Begini saja Nondes, kalo kamu terima aku, kamu pakai kalung itu. Kalo kamu tolak aku,
kamu kembalikan kalung itu,”

Beberapa saat, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Desy. Kalung salib yang ada di
genggaman tangan kanannya itu pun hanya didiamkan.

Secara tiba-tiba, Desy menarik tangan kanan Beta dan mengembalikan kalung tersebut
kepada Beta.

Apakah itu sebuah isyarat penolakan?

“Ini jawaban kamu Nondes?” Tanya Beta yang tak bisa memendam ekspresi kekecewaan.
“Maaf Masbet, aku maunyaaaaa…. Kamu yang pakein kalung itu ke aku! hehehe,” ucap
Desy sambil tertawa geli.

Beta masih tidak mengerti maksud dari omongan Desy. Ia hanya mematung di depan Desy.

“Ayo Masbet! Aku tahu kamu pengen banget pakein kalung itu ke aku. Kamu pasti minta
rambut aku di-ponytail biar gampang makein kalungnya kan? Hehehe,”

“Tunggu-tunggu, aku nih masih seng ngerti Nondes,”

“Perlu diperjelas?”

Tiba-tiba saja Desy memperjelas kata-katanya itu dengan mendaratkan sebuah ciuman di pipi
kiri Beta. Itu adalah ciuman pertama yang pernah ia beri ke Beta. Namun ada yang unik dari
ciuman pertama itu. Mungkin karena Desy kurang membulatkan bibirnya, gigi Desy sedikit
terasa membentur pipi Beta sehingga menyebabkan sakit yang lumayan hehehe.

“Aw! Hehehe gigiku kebentur tadi. Masbet, Aku gak mau jadi kado natal terindah kamu, aku

maunya kamu yang jadi kado ulang tahun terbaik dihidupku,” Desy sambil tersenyum.
Beta langsung memeluk Desy dengan erat sebagai luapan kegembiraan. Rasanya saat ini Beta
ingin melakukan selebrasi goal layaknya pemain bola pro.

Setelah melepas pelukan, Beta memakaikan kalung warisan ibunya itu ke leher Desy.

Kesumringahan tak bisa lepas dari wajah Beta.

“Berarti sekarang kita pacaran ya Nondes?”

“Ya gitu deh hehehe. Masbet, Nyong tresno karo koe! Hehehe,”

“Apa itu artinya Nondes? Hehehe,”

“Yee Masbet nih gimana sih, udah temenan lama sama wong jowo juga hahaha. Itu artinya
aku cinta kamu Masbet,”

Mereka berdua kembali berpelukan, Kini dunia serasa hanya milik si nyong ambon & wong
cilacap saja hehehe bercanda.

Saat masih menikmati suasana romantis itu, tiba-tiba hp Beta bergetar tanda ada yang
menelpon. Ternyata yang menelpon adalah Mas Parman, asisten rumah tangga di rumah Beta.

“Hallo… hallo bos, sekarang dimana bos? Si ibu nih bos aduhh panik saya,” Mas Parman
Nampak panik ketika Beta menjawab telponnya.

“Oma kenapa Mas?” jawab Beta.

“Ini bos, si ibu gak bisa bangun dari tempat tidur.. daritadi sebut nama bos terus. Saya jadi
takut nih bos, bos cepetan pulang ya kalo bisa,”

“Kenapa mas? Penyakit jantungnya oma kumat ya? Yaudah saya pulang sekarang. Mas
jagain oma dulu ya. Telepon ambulans saja kalo kenapa-kenapa,” Beta jadi ikutan panik,
tidak ingin sesuatu terjadi kepada orang tua satu-satunya itu.

Setelah menutup telepon, Beta langsung menjelaskan kepada Desy tentang apa yang mungkin
terjadi.

“Masbet, kamu tenang ya, jangan panik! Kita ke rumah kamu sekarang. Aku bakal nemenin
kamu. Percaya sama Tuhan, Nenekmu pasti baik-baik aja!” nasihat Desy kepada Beta.
Tanpa basa-basi Beta hanya mengangguk dan menarik tangan Desy untuk ikut dengannya.
Perasaan Beta menjadi panik luar biasa karena ia takut terjadi sesuatu pada neneknya yang
punya penyakit jantung. Ia belum kuat jika harus kehilangan Neneknya, terlebih ia sudah
kehilangan kedua orang tuanya sejak lama.

Tentunya Beta tidak pernah berharap kalau kebahagiaan natal yang baru didapatnya ini harus
“dibayar mahal” dengan terjadinya hal buruk pada sang nenek.

Sepanjang perjalanan ke rumah, Beta membawa mobil dengan ngebut karena saking
paniknya. Desy yang mendampingi Beta di bangku sebelah beberapa kali mencoba
menenangkan kekasihnya itu dengan ucapan & belaian tangannya di pundak Beta.
Ketika sampai di rumah..

Beta & Desy langsung masuk ke rumah dan menuju ke kamar Neneknya Beta. Ketika mereka
berdua masuk ke kamar Nenek Beta, sang nenek terlihat sedang berbaring di tempat tidur.

“Oma! Oma seng papa (baik-baik saja) toh? Jang kastinggal (Jangan tinggalkan) Beta Oma!”

Beta terlihat histeris sambil memeluk-meluk tubuh neneknya yang terbaring di tempat tidur.

“Su pulang nyong?” ucap nenek beta yang terbangun karena pelukan cucunya itu.

“Oma sakit ka? Kita ke rumah sakit sekarang ya,”

“Siapa yang sakit nyong? Oma seng papa kok, orang ini Oma Cuma abis tidur,” Nenek Beta
tersenyum kecil sambil mengucapkan itu.

Beta kebingungan, ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Tadi kata Mas Parman Oma sakit.. seng bisa bangun dari tempat tidur & panggil-panggil
Beta punya nama terus,”

“Siapa yang sakit nyong? Oma tadi Cuma istirahat tidur kok makanya seng bisa bangun
hahaha.. Tadi Oma sebut-sebut kamu punya nama yang karena Oma ada doakan kamu
hahaha,”

Beta mulai menyadari kalau ia telah dijahili oleh neneknya. Bahkan Desy yang sejak tadi jadi
penonton sudah mulai tertawa.

“Jadi Oma Cuma kerjain Beta saja? Oma ni, Beta sudah ketakutan ini,”

“Bukan begitu nyong. Ini Oma Jelaskan ya. Oma Cuma ingin tahu kalau Desy terima kamu
atau tidak. Kalau kamu ke sini sama Desy, berarti kan kamu diterima sama dia hahaha. Tadi
juga Om Hentje sudah kabari Oma sih,”

Beta & Desy sama-sama malu ketika dibilang seperti itu oleh neneknya Beta.

“Des, kamu sudah lihat kan bagaimana sayangnya Beta sama Oma-nya ini. Oma yakin, Beta
akan sayang sama kamu seperti ke Oma,” ucap Neneknya Beta kepada Desy.

“Iya Oma, aku percaya kok,” jawab Desy kepada neneknya Beta.

“Kalung itu cocok buat kamu Des, kamu jadi tambah cantik. Oma serasa liat mamanya Beta
waktu muda di diri kamu,” pujian diberikan neneknya Beta kepada Desy.

Akhirnya suasana kebersamaan tersebut dilengkapi dengan pelukan yang diberikan neneknya
Beta kepada “dua cucunya” itu.

“Terima kasih Tuhan, ini adalah natal terbaik yang pernah aku alami,” ucap Beta di dalam
hatinya.

Inilah akhir dari cerita MND (Mawar Natal Desy) atau bisa juga Maria Natalia Desy :p.
~The End~

Putra Randy Hengki – @PutraRandy_ 
©MND 111114

comments with facebook

About Septa

Happy. Confused. Lonely. At the same time.

Check Also

img_20141231_1410311

Favour Mart – Barcode Hati Desy

Favour Mart – Barcode Hati Desy Favour Mart, 21.48 WIB… Mata Alfito menatap tajam ke …