Monday, 5 December, 2016
Home » JKT48 Fanfict » Suster Dhike

Suster Dhike

Suster Dhike
 
“Arrgh…” Gumamku keras sambil membuka mata dan memegangi lutut.
“Selamat pagi.” Ucap seorang perempuan manis memakai baju suster.
“Kamu, siapa?” Tanyaku.
“Aku Rezky Wiranti Dhike, aku akan merawatmu sampai kakimu sembuh ya, salam kenal.”
“I, iya… Tapi, kakiku…” Eluhku.
“Kakimu terbentur sangat keras di pertandingan itu. Dasar pemain bola.” Lanjut Dhike.
“Kapan sembuhnya kira-kira?”
“Tidak terlalu parah, paling tidak dua bulan.”
“Baguslah.”
“Kok? Kenapa?” Tanya Dhike.
“Aku bisa kembali merumput dan mencetak gol, lalu menjadi top skor liga utama.”
“Dasar, ya sudah,  aku akan kembali malam nanti untuk mengecek lagi yah.” Ucap Dhike sambil mengelus lututku yang diperban.
Dhike berjalan menuju pintu kamar, sebelum ia keluar, ia melemparkan senyum manisnya untukku. Ah, kalau melihat senyumnya bukan kakiku yang terasa cedera, rasanya ingin mimisan.
*
Cerahnya mentari mulai memasuki sela-sela ruangan tempatku terbaring dan dengan sejuknya embun pagi turut menghiasi indahnya pagi ini, namun sesuatu yang lebih indah menyapaku.
“Hei, sudah bangun.” Ucap Dhike sambil membawa sarapan.
“Iya..” Jawabku pelan.
“Ini, obatnya yang plastik biru dihabiskan ya.”
“Obatnya enak gak?” Tanyaku
“Obat mana ada yang enak.” Balas Dhike.
“Tapi bisa jadi manis, tergantung sama siapa makan obatnya.” Godaku pada Dhike.
“Dasar. Semalam pelatih dan rekan timmu datang menjenguk, keluargamu kemana?”
“Karena aku bermain di klub kota ini sendiri, maka aku tinggal di mess bersama tim.”
“Pacar?” Tanya Dhike.
“Ha? Gak ada.”
“Yakin?”
“Sangat yakin.” Balasku tegas.
“Ya sudah, semoga cepat sembuh yah.” Lanjut Dhike.
Ia merapikan selimutku dan keluar dari kamar. Ah, aku yakin obat itu pasti pahit. Sebaiknya tadi aku minum sambil melihat Dhike, rasanya pasti manis.
*
Suasana Rumah Sakit sore itu sedikit sepi dari biasanya. Karena bosan terus-menerus dikamar akupun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar keliling Rumah Sakit. Dengan bantuan kursi roda, aku menggunakannya untuk mencari cafetaria. Bosan aku dengan bubur, dan enyah saja kau obat.
“Haaaaii, kamu kok jalan-jalan sih.” Dhike memanggilku dari belakang.
“Eh, kamu, Neng Rezky suster paling cantik di RS ini.” Godaku kepadanya.
“Kamu mau ngapain? Mau aku temenin?” Seru Dhike.
“Aku mau cari makan, bosen soalnya makannya itu-itu terus.” Jawabku.
Dhike mendorong kursi rodaku. Kami menuju cafetaria. Sesampainya disana, aku menunggu di sebuah meja, dan Dhike membawa mangkuk berisi makanan.
“Kalo pemain bola doyan gak sama makanan kayak gini?” Tanya Dhike.
“Wah ini enak banget Neng Rezky”. Dengan lahap kuhabiskan kolak pisang itu.
“Iya enak sih enak, tapi jangan panggil aku dengan sebutan Neng Rezky dong.” Keluh Dhike.
“Yah, kalo pake Neng kan rasanya lebih gimana gitu…” Godaku.
“Lebih apa? Hayo lebih apa?” Tanya Dhike penasaran.
“Lebih manis…”
“Awas ntar diabetes.”
Kalau aku tiap hari bertemu dengan Dhike, aku rela cederaku makin panjang, asal jangan makin parah. Bagiku, Dhike adalah sosok wanita bisa membuat pria mana saja jatuh hati dengan hanya melihat wajahnya, selain memiliki paras yang cantik ia juga merupakan perempuan yang sangat ramah.
*
Lebih cepat dari hari di kalender, aku pun mulai membuka perban di kakiku. Makin hari cederaku makin sembuh, dan makin dekat pula aku dengan Dhike.
“Aww!!” Teriakku kesakitan.
“Sakit ya?” Tanya Dhike merasa bersalah.
“Gak terlalu, yang sakit tuh… kalo kehilangan kamu.”
“Dasar, ya sudah, aku harus ganti shift dengan suster lain, kamu cepet sembuh yah.” Ucap Dhike.
Dhike langsung segera keluar dari kamarku. Saat aku menoleh ke atas meja, ada sebuah map yang tertinggal dan dibaliknya ada sebuah buku, berwarna merah dengan sampul telunjuk tangan yang menutupi mulut. Kubuka buku itu dari pembatas yang terselip. Aku terbelalak dengan satu kalimat di isi buku itu.
“Mencintai seseorang itu bukan dari kapan ia memulainya tapi sampai kapan ia mengakhirinya.”
Aku harus bilang wow! untuk kalimat ini. Ini seperti apa yang kurasakan.
“Tapi apa Dhike bisa merasa yakin dengan perasaan yg aku miliki sekarang?” Gumamku dalam hati.
*
“Haaaai, kamu baru bangun” Suara yang tidak asing itu membangunkanku.
“Eh, kamu? Ngapain disini?” Ucapku pada seorang gadis.
“Aku kan mau jenguk pacarku, gak boleh?” Ucap gadis itu.
“Sejak kapan kamu mau punya pacar pemain sepak bola? Bukannya anak band lebih keren? Bisa ikut tour keliling Kabupaten?”
“Kamu kok ngomongnya gitu sih?”
“Ya gimana aku gak kesel, kamu ninggalin aku seenaknya, dan dateng lagi sesuka kamu.” Ucapku kesal.
“Aku kesini mau minta maaf sama kamu. Kenapa sih kamu gak ngabarin kondisi kamu?” Ucap gadis itu sambil memegang erat tanganku.
Sudah kupastikan aku tidak akan terbuai dengan godaannya kali ini. Disaat yang bersamaan, Dhike masuk ke kamar sambil membawa sarapan.
“Haloooooo!! Banguuuun tukang tidur! selamat pagiiiiiiiiii!!” Ucap Dhike dengan ceria.
Saat Dhike melihat tanganku sedang dipegang oleh wanita itu, Dhike mendadak pucat dan gugup.
“Maaf, kalo ganggu kalian.” Ucap Dhike sambil meninggalkan kamar.
“Itu siapa?” Tanya wanita itu.
“Rezky Wiranti Dhike, jodohku yg tertunda!” Tegasku.
Wanita itu melepaskan genggaman tangannya. Ia terlihat sedih, matanya memerah. Ia mengusap wajahnya.
“Aku sudah menemukan pengganti dirimu, yang jauh lebih baik dan mau menerima aku apa adanya, tanpa harus aku menjadi orang lain.” Ucapku pada wanita itu.
“Siapa? Si suster itu?”
“Ya.”
“Ummm… Kalau memang kamu bahagia bersamanya aku ikhlas, ini semua memang salahku, aku yg menanam benih dan akulah yg harus menanggungnya.” Ucap wanita itu.
Wanita itu menangis sambil berjalan keluar kamar. Aku mencoba beranjak dari kasur dan mencoba mencari Dhike yang terlihat sedih saat meninggalkan kamar tadi.
Dhike berlari menuju taman kecil yang ada di belakang Rumah Sakit. Dari rona wajahnya, ia terlihat sedih dan bingung dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia bingung mengapa harus kesal dengan kehadiran sosok wanita tadi dihadapannya, padahal aku bukanlah siapa-siapa dirinya, selain hanya pasien biasa seperti yg lain.
“Cinta itu bukan dari kapan memulainya kan, tapi sampai kapan ia mengakhirinya”. Teriakku memecah kesepian pagi itu di taman.
Dhike pun menoleh ke arahku, ia terlihat bingung dengan kata-kata yg baru saja aku ucapkan. Aku berjalan ke arah Dhike, sambil terus menatap matanya.
“Apa maksudmu”? Tanya Dhike.
“Aku tidak peduli kalau aku baru saja mengenalmu, tetapi yang aku peduli aku mau mencintaimu sampai akhir hidupku.” Jawabku.
Wajah Dhike terlihat terharu, matanya berlinang. Pelan – pelan aku berjalan kearahnya, ia pun membantuku duduk di tepi kolam taman. Setelah duduk berdua, aku menawarkan kolak pisang kesukaanya yg baru saja kubeli untuk kami sarapan pagi.
***
@AdityaRizkyG
@shiasss

ingin cerpen atau fanfict kalian di muat disini?
kirimkan ke ✉ [email protected]
subyek: #JKT48fanfict

comments with facebook

About Septa

Happy. Confused. Lonely. At the same time.

Check Also

img_20141231_1410311

Favour Mart – Barcode Hati Desy

Favour Mart – Barcode Hati Desy Favour Mart, 21.48 WIB… Mata Alfito menatap tajam ke …